Sabtu, 05 Desember 2015

Macam-macam filsafat, menembus ruang dan waktu

Berfilsafat itu merupakan kegiatan olah piker dalam arti sendiri, maupun bersama-sama, ada olah piker pikiran Indonesia, olah piker pikiran bangsa-bangsa, olah piker dunia, dan lain-lain. Dalam berfilsafat itu kita harus menggunakan referensi yaitu pikiran para biksu. Jadi, kita harus banyak membaca pemikiran para biksu, buku-buku tentang karyanya yang telah ada.
Macam-macam filsafat bergantung pada obyeknya yang ada dan mungkin ada. Kemudian kita melihat macam-macam filsafat itu jika obyeknya mungkin bisa dipersempit. Orang-orang jaman dulu berpikir bahwa sesuatu itu terbuat dari apa, contohnya bumi terbuat dari apa, sehingga filsafat orang dulu adalah filsafat alam. Jika obyeknya tentang diri manusia maka filsafatnya adalah filsafat manusia, yang kemudian kita memikirkan lokasi dari manusia tersebut. Contohnya manusia itu di pulau Jawa maka filsafatnya adalah filsafat manusia Jawa. Macam filsafat yang lain adalah jika obyeknya merupakan hal-hal yang berkaitan dengan spiritual maka filsafat spiritual atau teologi.
Secara professional, macam filsafat dapat dilihat lebih rinci mengenai lokasi obyek tersebut, dimana yang kita pikirkan, maka berfilsafat itu membagi menjadi dua macam yaitu obyek yang dalam pikiran dan obyek di luar pikiran. Obyek yang di luar pikiran itu merupakan hal yang dapat dilihat, didengar ataupun diraba. Sedangkan obyek yang di dalam pikiran juga memiliki sifat-sifat tersendiri. Ketika kita memejamkan mata, maka kita memasukkan obyek ke dalam pikiran. Contoh : handphone. Ketika kita dapat melihat handphone maka obyek tersebut ada di luar pikiran, sedangkan ketika memejamkan mata dan masih mengingat handphone maka obyek tersebut berubah ada di dalam pikiran. Obyek yang dalam pikiran bersifat ideal dan tetap, yaitu yang benar menurut ilmu. Obyek pikir yang di dalam pikiran menghasilkan filsafat idealism. Tokoh filsafat idealism adalah Plato. Obyek yang di luar pikiran bersifat tidak tetap dan tokohnya adalah Aristoteles. Obyek pikir yang di luar pikiran itu menghasilkan filsafat realism.  
Selanjutnya, macam filsafat berdasarkan pada banyaknya obyek dapat dibagi menjadi tiga, yaitu monoisme, dualism, dan pluralism. Filsafat monoisme merupakan filsafat yang menganggap bahwa hanya ada satu yang benar yaitu kausa prima (Tuhan). Filsafat dualism ialah yang benar dua, sedangkan pluralism yaitu yang benar banyak. Macam-macam filsafat itu sebenarnya berdasarkan pada dimana, karakteristik dari obyek tersebut hingga sampai pada sejarah perkembangannya hingga filsafat modern atau filsafat kontemporer.
Obyek filsafat adalah sesuatu yang ada dan mungkin ada. Obyek tersebut merupakan urusan manusia. Ia mempunyai keterbatasan dalam olah pikir dan merupakan rahmat dari Tuhan sehingga manusia tidak sempurna. Manfaat dari ketidaksempurnaan itu ialah kita dapat membedakan. Contoh: kita tidak dapat hidup di air secara terus menerus karena kita dapat membedakan darat dan air, yang mana kehidupan kita. Segala hal yang ada dan mungkin ada sebenarnya membawa rahmat kepada kita jika mampu menggalinya dengan baik. Oleh karena itu, rasa syukur terus menerus saja masih kurang. Rasa syukur itu harus menjadi bagian dari kehidupan atau aktifitas sehari-hari, sehingga kita harus tahu bagaimana meningkatkan spiritual.
Penerapan rasa syukur kita akan rahmat Tuhan berkaitan dengan keterbatasan manusia dalam memikirkan dimensi ruang dan waktu. Menembus ruang dan waktu jika dibayangkan hanya manusia super atau manusia luar biasa yang dapat melakukannya. Tetapi pengertian dari menembus ruang dan waktu adalah mengalami perubahan. Ketika belajar filsafat, kita belajar secara professional yaitu secara intensif dan ekstensif. Kita harus memahami pikiran para biksu kemudian kita hubungkan atau kita korenspondensikan dengan pengalaman kita, sehingga upaya menembus ruang dan waktu itu berdimensi. Pertanyaan yang muncul adalah: Siapakah yang disebut ruang dan waktu? subyeknya siapa? siapakah dirimu? Kita mempunyai dimensi waktu. Dimensi ruang tersebut adalah dimensi nol, dimensi satu, dimensi dua, dan seterusnya, tergantung kita memberikan nomor. Hal tersebut merupakan teori atau aksioma saja. Dalam kenyataannya yang sedang ditempati adalah ruang. Contohnya ruang terbuka, ruang tertutup, ruang dosen, dan lain-lain. Jika dikembangkan dengan bahasa analog, ruang adalah pikiran yang meliputi ada dan mungkin ada. Jadi ruang itu terdiri dari wadah dan isinya dimana yang ada dan mungkin ada itu meliputi wadah dan isinya. Tanpa wadah kita tidak dapat menemukan isi dan tanpa isi kita tidak dapat menemukan wadah. Untuk mengetahui ruang itu kita harus mengetahui waktu, begitu sebaliknya karena sebenar-benarnya waktu dan sebenar-benarya ruang itu tidak ada, hanya ada dalam pikiran. Hal ini merupakan intuisi, bukan definisi. Kita mempunyai ruang, contohnya ruang imajiner, tergantung kita memberikan nama. Ruang terdiri dari empat, yaitu material, formal, normatif, dan spiritual. Material merupakan bentuk fisiknya, formal yaitu yang ditulis secara resmi dan normative adalah ilmu atau tata kramanya. Orang yang berilmu adalah orang yang mengetahui ruang dan waktu sesuai dengan tempatnya. Jika ada orang yang berkhutbah dimana-mana tanpa tahu tempatnya maka ia merupakan orang gila.
Kita sebagai manusia dapat menciptakan ruang sendiri. Kita dapat memahami ruang dimensi satu, dua karena sebagai orang dewasa, kita menggunakan intuisi sedangkan anak-anak menggunakan definisi sehingga tidak dapat memahaminya. Kita juga dapat memahami ruang dimensi satu karena kita mempunyai ruang dimensi dua, memahami ruang dimensi dua karena mempunyai ruang dimensi tiga dan seterusnya.  Secara umum, ruang dimensi tiga merupakan bangun ruang, dimensi dua merupakan bangun datar, maka kita dapat membayangkan ruang dimensi satu, empat dan sebagainya. Orang matematika dapat memahami hingga ruang dimensi-n karena mereka menggunakan intuisi. Kemudian dikembangkan lagi sehingga kita mempunyai ruang kaum kapitalis, dimana hierarki dari bawah yaitu : ruang archaik, tribal, tradisional, teodal, modern, pos modern dan pos pos modern atau kapitalis.
Orang yang berilmu dalam pendidikan matematika ialah orang yang sopan santun terhadap apa yang mungkin ada di dalam pendidikan matematika, mengerti, memahami, mengamalkan dan direfleksikan. Belajar filsafat analog dengan belajar ilmu yang lain. Ketika belajar kita berhadapan dengan visi kita, yaitu menempatkan spiritual di paling atas, tiada dalam kehidupan ini terbebas dari unsure spiritual karena merupakan pendirian kita. Namun di sisi lain kita juga harus menghadapi gejolak dunia, dimana pengaruh “power of now” sangat besar dengan tombaknya yaitu kapitalisme, utilitarian, pragmatism dan hedonisme.
·         Kapitalisme : pandangan mengenai segala sesuatu diukur dari laju ekonomi. Keberhasilan seseorang diukur dari keberhasilanya dalam ekonomi.
·         Utilitarian : pandangan mengenai segala sesuatu itu diukur dari manfaatnya. Jadi ketika melakukan suatu hal maka kita harus apakah hal tersebut bermanfaat atau tidak. Contohnya Amerika yang menyerang Pakistan.
·         Pragmatism : hakekat budaya hidup cepat, praktis, tidak bertele-tele.
·         Hedonism : pandangan hidup yang menganggap bahwa orang akan menjadi bahagia dengan mencari atau mengejar kebahagian dan rasa senang, hanya mengejar kenikmatan dunia, lupa pada norma agama. Rasa senang itu bisa diperoleh jika menemukan sesuatu yang baru. Hedonism ini merupakan limbah dari kapitalisme. Contoh : perkawinan dan pernikahan dalam dunia Barat.
Dalam perkembangan global ini, kita menemukan system dimana system tersebut tidak sesuai dengan diri kita, maka itulah dajal. Oleh karena itu sangatlah penting orang harus beragama. Dunia yang diciptakan oleh power of now sangat luar biasa, meskipun mereka menaruh agama di tengah karena yang favorit adalah power of now. Contoh pengaruhnya dalam kehidupan kita adalah adanya handphone, kita tidak dapat menghindarinya. Seperti halnya siang dan malam, kita tidak dapat memisahkanya, kapan siang dan kapan malam. Itulah tantangan kita, sehingga harus waspada.
Pertanyaan yang masih belum terjawab adalah siapakah dirimu? Diri kita ini tergantung ruangnya. Jika material maka fisiknya seperti kaki, tangan, punggung, dan lain-lain, jika formalnya maka tulisan, ijazah, jika normative maka ilmunya dan spiritual adalah amal ibadahnya. Jadi menembus ruang dan waktu itu tergantung material, formal, normative dan spiritualnya. Sebuah batu juga mengalami ruang dan waktu walaupun tidak mengenal ruang dan waktu tapi batu itu ada dalam pikiran. Setiap manusia juga berbeda-beda dalam menembus ruang dan waktu, sehingga ruang dan waktu itu berdimensi.
Metode dalam menembus ruang dan waktu ada dalam pikiran subyeknya. Contoh : batu permata yang dipakai di tangan kita. Batu tersebut dapat menembus ruang dan waktu karena menempel di tangan. Agar kita mampu menembus ruang dan waktu, kita harus memahami tentang fenomenologi, fundalisme dan anti-fundalisme.
1.      Fenomenologi
Fenomenologi merupakan pikiran para biksu. Hal ini paling banyak digunakan oleh orang matematika karena dasarnya adalah abstraksi dan idealism. Abstraksi adalah memilih atau reduksi, sesuai dengan kodrat manusia. Contoh : manusia dilahirkan dari seorang ibu yang telah dipilih. Selain itu, manusia itu terbatas dan juga tidak adil. Ia tidak adil terhadap obyek yang ada di belakang karena tidak bisa melihatnya, tidak adil terhadap apa yang didengarkan. Oleh karena itu, manusia itu hidupnya reduksi, mulai menginjak tanah yang mana, kapan ngerem, kenapa belok dan lain-lain. Hal itu merupakan contoh dari reduksi yang kita lakukan. Ketika memikirkan sesuatu agar dapat jernih, kita memasukkan hal-hal yang tidak seharusnya dipikirkan ke dalam rumah epoke. Contoh : belajar mengenai bilangan, kita tidak perlu memikirkan lima apel ditambah delapan jeruk, tapi hanya memikirkan nilainya saja. Yang kedua adalah idelisme yang menganggap sesuatu itu sempurna.
2.      Fundamentalisme dan Anti-fundamentalisme
Semua makhluk beragama adalah kaum fundamental karena menetapkan Tuhan sebagai kausa prima yaitu sebab dari segala sebab, tidak ada sebab yang lain, sebab utama dan pertama. Selain itu karena mempunyai fundamen atau permulaan. Seluruh kaum matematis merupakan kaum fundamental karena membuat matematika dari definisi. Orang yang membangun keluarga juga merupakan kaum fundamental dengan dasarnya ijab Kabul.hakekat manusia adalah fundamen, tetapi hanya separuhnya karena semua manusi memiliki keterbatasan, sebagian besar tidak mampu mengenali permulaan. Contoh : kapan dimulainya pagi, siang atau malam? Sejak kapan dapat membedakan besar kecil? Tidak ada orang yang bisa mengatakanya kapannya. Hal ini disebut dengan anti-fundamentalisme, yang hanya menggunakan intuisi.
Apa yang disebut dengan 2? Jawabannya bermacam-macam, ada bilangan prima, bilangan genap, hasil dari 3-1 dan lain-lain. Ini merupakan jawaban yang salah karena kita tidak perlu mendefinisikan bilangan 2. Penyebab dari permasalahan dalam pendidikan matematika adalah para calon guru seperti kita ini yang kehilangan intuisinya. Maka manfaat dari belajar filsafat adalah merebut kembali intuisi yang hilang, tidak perlu definisi karena sudah ada.
Penerapannya dalam kehidupan : aku adalah fundamen karena setiap melakukan kegiatan dimulai dengan doa. Untuk berdoa dengan khusyuk maka tangkap pikiran yang lain dan masukkan ke dalam rumah epoke. Orang berdoa itu juga mempunyai sopan santun terhadap ruang dan waktu.
Dalam perkembangan perjalanan filsafat sampai era Auguste Comte yang melahirkan ilmu telah banyak sekali ruang yang diperoleh. Teknologi juga merupakan ruang, maka timbullah istilah-istilah baru. Pacar atau teman dekat mempunyai lambing atau sandi sendiri dimana orang lain tidak akan mengerti. Masing-masing orang mempunyai sandi sendiri. Sebagai contohnya adalah orang Jawa Timur yang mempunyai bahasanya sendiri, orang luar tidak dapat mengerti. Kata-kata baru yang muncul itu oleh orang yang mempunyai otoritas. Contoh : Syahrini yang menciptakan istilah baru. Dalam kehidupan ini kita harus memahami komunikasi, bagaimana kita dapat berkomunikasi dengan orang-orang itu sangat penting.

Pandangan Epistemologi Essensialisme



     Pandangan Epistemologi Essensialisme


Teori kepribadian manusia sebagai refleksi Tuhan adalah jalan untuk mengerti epistemologi essensialisme.
 1.  Kontraversi Jasmaniah Rohaniah
Perbedaan idealisme realisme adalah karena yang pertama menganggap bahwa rohani adalah kunci kesadaran tentang realita.Bagi sebagian penganut realisme,pikiran itu adalah jasmaniah sifatnya yang tunduk kepada hukum-hukum phisis.
Konsekuensinya kedua unsur rohani dan jasmani adalah realita kepribadian manusia.Untuk mengerti manusia,baik filosofis maupun ilmiah haruslah melalui hal tersebut dan pendekatan rangkap yang sesuai dalam pelaksanaan pendidikan.
2.      Pendekatan (Approach) Idealisme pada Pengtahuan
a.  Kita hanya mengerti rohani kita sendiri,tetapi pengertian ini memberi kesadaran untuk mengerti realita yang lain.Sebab kesadaran kita,rasio manusia adalah bagian dari pada rasio Tuhan yang maha sempurna.
b.  Menurut T.H Green,approach personalisme itu hanya melalui introspeksi.Padahal manusia tidak mungkin mengetahui sesuatu hanya dengan kesadaran jiwa tanpa adanya pengamatan.Karena itu setiap pengalaman mental pasti melalui refleksi antara macam-macam pengamalan.
c. Dalam filsafat religious yang modern,ada teori mengatakan bahwa apa yang dimengerti tentang sesuatu adalah karena resonansi pengertian Tuhan.
3.      Pendekatan (Approach) Realisme pada Pengetahuan
Terdapat beberapa pendekatan realisme pada pengetahuan,yakni :
a.      Menurut Teori Asosiasionisme
Teori ilmu jiwa asosiasi dipengaruhi oleh filsafat empirisme John Locke.Pikiran atau ide-ide serta isi jiwa adalah asosiasi unsur-unsur penginderaan dan Pengamatan.
b.      Menurut Teori Behaviorisme
Aliran ini berkwsimpulan bahwa perwujudan kehidupan mental tercermin pada tingkah laku,sebab manusia sebagai suatu organisme adalah totalitas mekanisme biologis.Menurut Behaviorisme,masalah pengetahuan (yang dapat ditanggap manusia) tidak dapat dipisahkan dari proses penanaman kondisi.
a.      Menurut Teori Koneksionisme
Teori ini menyatakan semua makhluk,termasuk manusia terbentuk (tingkah lakunya) oleh pola-pola connections between (hubungan-hubungan antara) stimulus dan respon.Di samping koneksionisme dapat meletakkan pandangan yang lebih meningkat dari assosianisme dan behaviorisme juga menunjukkan bahwa dalam hal belajar perasaan yang dimiliki oleh manusia mempunyai peranan terhadap berhasil tidaknya belajar yang dilakukan.
4.      Tipe Epistimologi Realisme
Terdapat beberapa tipe epistemologi realisme.Di Amerika ada dua tipe yang utama, yaitu:
a.      Neoralisme
Secara psikologi neoralisme lebih erat dengan behaviorisme.Baginya pengetahuan diterima,ditanggap langsung oleh pikiran dunia realita.
b.      Cretical Realisme
Aliran ini menyatakan bahwa media antara intelek dengan realita adalah seberkas penginderaan dan pengamatan.
DAFTAR PUSTAKA
Tafsir, Ahmad. 2004. Filsafat Ilmu. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Sudarsono. 2008. Ilmu Filsafat. Jakarta: Rineka Cipta.
Bakhtiar, Amsal. 2010. Filsafat Ilmu. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Perbedaan Paradigma Positivisme dan Postpostivisme

Ada beberapa perbedaan antara paradigma Postivisme dan paradigma Postpositivisme, yaitu :
ASUMSI
POSITIVISME
POSTPOSTIVISIME
Ontologi
Bersifat nyata, artinya realita mempunyai keberadaan sendiri dan diatur oleh hukum-hukum alam.
Realis kritis, artinya relaitas itu memang ada, tetapi tidak akan pernah dapat dipahami sepenuhnya.
Epistemologi
-     Dualis/Objektif, adalah mungkin dan esensial bagi peneliti untuk mengambil jarak dan bersikap tidak melakukan interaksi dengan objek yang diteliti.
-     Nilai, faktor bias dan faktor yang mempengaruhi lainnya secara otomatis tidak mempengaruhi studi.
Objektivis modifikasi, artinya objektivitas tetap merupakan pengaturan (regulator) yang ideal, namun objektivitas hanya dapat diperkirakan dengan penekanan khusus pada penjaga eksternal, seperti tradisi dan komunitas yang kritis.
Metodologi
Bersifat eksperimental/manipulatif. Pertanyaan-pertanyaan dan/atau hipotesis-hipotesis dinyatakan dalam bentuk proposisi sebelum penelitian dilakukan dan diuji secara empiris (falsifikasi) dengan kondisi yag terkontrol secara cermat.
Eksperimental/manipulatif dimodifikasi, artinya menekankan sifat ganda yang kritis. Memperbaiki ketidakseimbangan dengan melakukan penelitian dalam latar yang alamiah, yang lebih banyak menggunakan metode-metode kualitatif, lebih tergantung pada teori-grounded (grounded-theory) dan memperlihatkan upaya (reintroducing) penemuan dalam proses penelitian.

Filsafat Hidup Rasulullah SAW

Filsafat hidup Rasulullah adalah sebagai berikut :
1.      Sebaik-baiknya Manusia yang Bermanfaat kepada Orang Lain
Rasulullah pernah ditanya oleh seorang sahabat. “Wahai Rasulullah, bagaimana kriteria orang yang baik itu? Rasulullah menjawab: Yang artinya: “Sebaik-baiknya manusia ialah orang yang bermanfaat bagi orang lain”.
Jika ia seorang hartawan, hartanya tidak dinikmati sendiri, tapi dinikmati pula oleh tetangga, sanak famili dan juga didermakan untuk kepentingan masyarakat dan agama. Inilah ciri-ciri orang yang baik. Jika berilmu, ilmunya dimanfaatkan untuk kepentingan orang banyak. Jika berpangkat, dijadikannya sebagai tempat bernaung orang-orang disekitarnya dan jika tanda tangannya berharga maka digunakan untuk kepentingan masyarakat dan agama, tidak hanya mementingkan diri dan golongannya sendiri.
Pokoknya segala kemampuan/potensi hidupnya dapat dinikmati orang lain, dengan kata lain orang baik adalah orang yang dapat memfungsikan dirinya ditengah-tengah masyarakat dan bermanfaat.
Sebaliknya kalau ada orang yang tidak bisa memberi manfaat untuk orang lain atau masyarakat sekitarnya bahkan segala kenikmatan hanya dinikmatinya sendiri, berarti orang itu jelek. Adanya orang seperti itu tidak merubah keadaan dan perginyapun tidak merugikan masyarakat.
Jadi filsafat hidup Rasulullah SAW menjadikan dirinya bermanfaat bagi orang lain. Oleh karena itu, sudah sepantasnya bagi kita sebagai manusia untuk memegang filsafat hidup. Orang yang hanya menanam rumput untuk makanan ternak ia akan mendapatkan rumput tapi padinya tidak dapat, sebaliknya orang yang menanam padi, ia akan mendapatkan padi dan sekaligus mendapatkan rumput, karena rumput tanpa ditanam akan tumbuh sendiri. Begitu juga dengan kita yang hidup ini, kalau niat dan motivasinya sekedar mencari rumput (uang) iapun akan memperolehnya, tetapi tidak dapat padinya atau tidak akan memperoleh nilai ibadah dari seluruh pekerjaannya.
Oleh karena itu dalam menjalankan kehidupan, niatkan  untuk ibadah dengan suatu keyakinan bahwa pekerjaan dan tempat kerja kita, kita yakini sebagai tempat mengabdi kepada Nusa, Bangsa dan Negara, dan sebagai upaya menghambakan diri kepada Allah SWT. Dengan demikian maka setiap hendak berangkat ke tempat bekerja berniatlah beribadah, Insya Allah seluruh pekerjaan kita akan bernilai ibadah, dan mendapatkan pahala.
Alangkah ruginya orang yang hidup ini niatnya hanya mencari “rumput” walau hal itu penting, tetapi kalau niatnya hanya itu saja, orang tersebut termasuk orang yang rugi, karena ia tidak akan mendapatkan nilai ibadah dari pekerjaannya.
Yang namanya ibadah bukan hanya shalat, zakat, puasa atau membaca Al-Qur’an saja, tetapi bekerja, mengabdi kepada masyarakat, Negara dan Bangsa dengan niat Lillahi Ta’ala ataupun ibadah. Hal ini penting untuk diketahui, karena ada yang berfilsafat: Kalau ada duitnya baru mau kerja, kalau tidak ada duitnya malas bekerja.
2.      Umur Panjang Banyak Amal Salehnya
Rasul pernah ditanya, wahai Rasulullah! Orang yang paling baik itu yang bagaimana? Rasul menjawab : Yang artinya : “Sebaik-baiknya diantara kamu ialah orang yang umurnya panjang dan banyak amal kebajikannya”.
Sudah barang tentu orang yang semacam ini sangat bermanfaat bagi masyarakat. Sebaliknya kalau ada orang yang amalnya baik tapi umurnya pendek masyarakat akan merasa kehilangan. Rasulullah juga mengatakan,”Seburuk-buruknya manusia yaitu mereka yang panjang umurnya tapi jelek perbuatannya”.
Jadi sebenarnya kalau ada orang semacam itu lebih baik umurnya pendek saja, supaya masyarakat sekitarnya tidak banyak menderita dan agar ia tidak terlalu berat tanggung jawabnya di hadapan Allah. Orang yang umurnya panjang dan banyak amal kebajikannya itulah orang yang baik.
Permasalahannya sekarang bagaimana agar kita mendapat umur yang panjang. Sementara orang ragu, bukankah Allah telah menentukan umur seseorang sebelum lahir? Pernyataan ini memang benar, tapi jangan lupa Allah adalah Maha Kuasa menentukan umur yang dikehendaki-Nya.
Adapun resep agar umur panjang sebagaimana resep Rasulullah : Secara lahiriyah, kita semua sependapat untuk hidup sehat, harus hidup teratur, makan yang bergizi serta menjaga kondisi dengan berolahraga yang teratur. Secara spiritual orang yang ini panjang umur ada dua resepnya:
1)      Suka bersedekah, yakni melepaskan sebahagian hartanya di jalan Allah untuk kepentingan masyarakat, anak yatim, fakir miskin maupun untuk kepentingan agama. Dengan kata lain orang yang kikir atau bakhil sangat mungkin umurnya pendek.
2)      Suka silahturahmi, Silah berarti hubungan dan rahmi berati kasih sayang, jadi suka mengakrabkan hubungan kasih sayang dengan sesama, saling kunjung atau dengan saling kirim salam.
Sementara para ahli tafsir menyatakan sekalipun bukan umur itu yang bertambah misalnya 60 tahun, karena sering silahturahmi meningkat menjadi 62 tahun, banyak sedekahnya menjadi 65 tahun. Kalau bukan umurnya yang bertambah, setidak-tidaknya berkah umur itu yang bertambah. Umurnya tetap tapi kualitas dari umur itu yang bertambah.
3.      Yang Hari Sekarang Lebih Baik dari Hari Kemaren
Rasul pernah ditanya, orang yang paling beruntung itu yang bagaimana? Rasul Menjawab : Yang artinya : “Barang siapa yang keadaannya hari ini kualitas hidupnya lebih baik dari hari kemarin maka dia adalah orang beruntung”.
Kalau kita bandingkan dengan tahun kemarin, ilmu dan ibadahnya, dedikasinya, etos kerja, disiplin kerja meningkat, dan akhlaknya semakin baik, orang tersebut adalah orang yang beruntung. Dengan kata lain filsafat hidup Rasulullah yang ketiga adalah “Tiada hari tanpa peningkatan kualitas hidup”.
Pernyataan Rasul yang kedua : Yang artinya: “Barangsiapa keadaan hidupnya pada hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia termasuk orang yang rugi”. Jika amalnya, akhlaknya, ibadahnya, kedisplinannya dan dedikasinya tidak naik dan juga tidak turun maka orang tersebut termasuk orang yang merugi.
Sementara orang bertanya: Kenapa dikatakan rugi padahal segala-galanya tidak merosot? Bagaimana dikatakan tidak rugi, mata sudah bertambah kabur, uban sudah bertabu, giginya sudah pada gugur dan sudah lebih dekat dengan kubur, amalnya tidak juga bertambah, kualitas hidup tidak bertambah maka ia adalah rugi. Dan Rasul mengatakan selanjutnya :
Yang artinya : “Barangsiapa keadaan hidupnya pada hari ini lebih buruk dari hari kemarin maka orang semacam itu dilaknat oleh Allah”.
Oleh karena itu pilihan kita tidak ada lain kecuali yang pertama, yakni tidak ada hari tanpa peningkatan kualitas hidup. Sebagai umat Islam, kedispilinan, dedikasi, kepandaian, kecerdasan, keterampilan harus kita tingkatkan, agar kita termasuk orang yang beruntung.
4.      Orang yang Terbaik terhadap Keluarga
Rasul pernah ditanya : “Wahai Rasulullah! Suami dan isteri yang paling baik itu bagaimana? Rasul menjawab : “Suami yang paling baik adalah suami yang sikap dan ucapannya selalu lembut terhadap isterinya, tidak pernah bicara kasar, tidak pernah bersikap kasar, tidak pernah menyakiti perasaan isterinya, tetap menghormati dan menghargai isterinya.
Sebab ada sikap seorang suami yang suka mengungkit-ungkit segala kekurangan isterinya, sehingga dapat menyinggung perasaannya, yang demikian termasuk suami yang tidak baik biarpun keren dan uangnya banyak. Hakekatnya suami yang tidak baik yaitu suami yang kasar terhadap isterinya. Dan seorang laki-laki yang mulia ialah yang bisa memuliakan kaum wanita, tidak suka menyepelekan. Sampai-sampai Rasul masih membela kepada kaum wanita beberapa saat sebelum Beliau wafat. Beliau sempat berpesan: “Aku titipkan nasib kaum wanita kepadamu”. Diulangnya tiga kali. Karena kaum wanita kedudukannya serba lemah. Jadi kalau seoarang suami memiliki akhlak yang tidak baik maka penderitaan sang isteri luar biasa. Hal ini perlu kita ingat karena segala sukses yang dicapai oleh sang suami pada hakekatnya adalah karena andil sang isteri. Demikian juga andil isteri yang membantu mencarikan nafkah.
5.      Bila Terlanjur Cepat Bertobat
Rasul pernah ditanya, “Wahai Rasulullah! Orang yang benar itu yang bagaimana? Rasul menjawab,”Apabila dia berbuat salah segera bertaubat, kembali kepada jalan yang benar. Oleh karena itu para filosof mengatakan, “Orang yang benar adalah bukan orang yang tak pernah melakukan kesalahan, tapi orang yang benar adalah mereka yang sanggup mengendalikan diri dari perbuatan yang terlarang dan bila terlanjur melakukannya, ia memperbaiki diri dan tidak mengulangi perbuatan yang salah itu.
Ibarat anak sekolah mengerjakan soal, kalau salah tidak jadi masalah, asal setelah dikoreksi tidak mengulangi kesalahannya. Sampai-sampai ada ungkapan yang tidak enak didengar tapi benar menurut tuntunan Islam, yaitu: Bekas maling itu lebih baik  dari pada bekas santri. Kita tahu bahwa santri adalah orang yang taat beragama, sedangkan maling penjahat, pemerkosa, dan sebagainya tapi setelah bertaubat menjadi orang yang baik, kembali ke jalan yang benar. Orang yang demikian matinya menjadi khusnul khotimah. Memang yang ideal, orang yang baik itu dari muda sampai tua baik terus, tapi hal itu jarang.
Kesalahan yang sudah terlanjur, selama masih mau bertaubat tidak jadi masalah. Oleh karena itu, segala hukuman, seperti hukuman administrasi dalam kepegawaian, selalu didasarkan atas beberapa pertimbangan. Apakah kesalahannya tidak bisa ditolerir, apakah orang tersebut perlu diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya atau tidak. Apakah kesalahannya terpaksa atau karena kebodohannya? Maka berbagai pertimbangan perlu dilakukan sehingga ada kesempatan bagi orang tersebut untuk memperbaiki kesalahannya, agar dia bisa kembali menjadi orang yang baik. Nabi Muhammad SAW bersabda :
Yang artinya: “Walaupun engkau pernah melakukan kesalahan sehingga langit ini penuh dengan dosamu, asal saja kamu bertaubat, pasti akan terima oleh Allah”.
6.      Suka Memberi
Suka memberi. Sabda Nabi : Yang artinya : “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah”. Orang yang suka memberi, martabatnya lebih terhormat daripada orang yang suka menerima. Allah berfirman : Yang artinya : “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir, seratus biji. Allah melipat-gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas karunia-Nya lagi Maha Mengetahui.(QS. Al-Baqarah : 261).
Tidak ada orang yang suka sedekah, kemudian jatuh miskin. Umumnya yang jatuh miskin karena suka judi, togel, dan minuman keras. Dan resep kaya menurut Islam adalah kerja keras, hidup hemat, dan suka sedekah.
7.      Seimbang antara Kepentingan Dunia dan Akhirat
Rasul pernah ditanya oleh para sahabat : “Wahai Rasul! Si pulan itu orang yang luar biasa hebatnya. Dia selalu berada dalam masjid, siang malam melakukan shalat, puasa, I’tikaf, berdo’a. Kemudian Rasul bertanya kepada para sahabat, “Apakah orang itu punya keluarga?” Sahabat menjawab, “Punya Ya Rasul”. Kata Rasul : “Orang tersebut adalah orang yang tidak baik!. Saya ini suka ibadah tapi disamping itu sebagai seorang suami, berusaha mencari nafkah. Sampai Rasul menyatakan : ” Tergolong tidak baik orang yang hanya mementingkan urusan ukhrawi tetapi melalaikan urusan dunia”.

Juga tidak benar orang yang hanya mementingkan urusan duniawi tapi melalaikan urusan ukhrawi. Yang paling baik adalah seimbang antara kepentingan duniawi dengan kepentingan ukhrowi dan tidak berat sebelah.

Aliran Perennialisme

Aliran Perennialisme
Di zaman kehidupan modern ini banyak menimbulkan krisis diberbagai bidang kehidupan manusia, terutama dalam bidang pendidikan. Untuk mengembalikan keadaan krisis ini, maka perenialisme memberikan jalan keluar yaitu berupa kembali kepada kebudayaan masa lampau yang dianggap cukup ideal dan teruji ketangguhannya.
Dikatan bahwa pendidikan yang ada sekarang ini perlu kembali pada masa lampau,karena kebudayaan yang dianggap krisis ini dapat teratasi melalui perenialisme karena ia dapat mengarahkan pusat perhatiannya pada pendidikan zaman dahulu dengan sekarang.Perenialisme merupaka aliran filsafat yang susunannya mempunyai kesatuan, dimana susunannya itu merupakan hasil pikiran yang memberika kemungkinan bagi seseorag untuk bersikap yang tegas dan lurus.
Filsafat perenialisme terkenal dengan bahasa latinnya philosophia perenis. Pendiri utama dari aliran filsafat ini adalah Aristoteles, kemudian didukung dan dilanjutkan oleh St. Thomas Aquinas. Perenialisme memandang bahwa kepercayaan-kepercayaan aksiomatis zaman kuno dan abad pertengahan perlu dijadika dasar penyusunan konsep filsafat dan pendidikan zaman sekarang.
Jadi sikap untuk kembali kemasa lampau itu merupakan konsep bagi perenialisme di mana pendidika yang ada sekarang ini perlu kembali kemasa lampau dengan berdasarkan keyakinan bahwa kepercayaan itu berguna bagi abad sekarang.
1.      Pandangan Ontologi Perennialisme
Ontopologi perennialisme terdiri dari pengertian-pengertian seperti benda individual, esensi, aksiden, dan substansi. Perennialisma membedakan suatu realita dalam aspek-aspek perwujudannya. Benda individual disini adalah benda sebagaimana Nampak dihadapan manusia dan yang ditangkap dengan panca indera. Esesnsi dari suatu kualitas yang menjadikan atau menyebabkan benda itu lebih intrinsik dari pada halnya. Adapun aksiden adalah keadaan-keadaan khusus yang dapat berubah-ubah dan yang sifatnya kurang penting dibandingkan dengan esensial. Sedangkan substansi adalah kesatuan dari tiap-tiap individu. Segala yang ada di ala mini sperti halnya manusia, batu bangunan dasar, hewan, tumbuh-tumbuhan dan sebagainya merupakan hal yang logis dalam karakternya.
I.R Poedjawijatna mengatakan bahwa esensi dari pada kenyataan itu adalah menuju kea rah aktualitas, sehingga makin lama makin jauh dari potensialitasnya. Jadi, dengan demikian bahwa segala yang ada di ala mini terdiri dari materi dan bentuk atau badan dan jiwa yang disebut dengan substansi, bila dihubungkan dengan manusia maka manusia itu adalah potensialita yang di dalam hidupnya tidak jarang dikuasai oleh sifat eksistensi keduniaan, tidak jarang pula dimilikinya akal, perasaan dan kemauannya semua ini dapat diatasi.
2.      Pandangan Epistemologis perennialisme
Perenialisme berpendapat bahwa segala sesuatu yang dapat diketahui dan merupakan kenyataan adalah apa yang terlindung pada kepercayaan. Kebenaran adalah sesuatu yang menunjukkan kesesuaian antara piker dengan benda-benda. Pengetahuan merupakan hal yang sangat penting karena ia merupakan pengolahan akal pikiran yang konsekuen.
Menurut perenialisme filsafat yang tertinggi adalah ilmu metafisika. Sebab science sebagai ilmu pengetahuan menggunakan metode induktif yang bersifat analisa empiris kebenarannya terbatas, relative atau kebenaran probability. Ilmu pengetahuan merupakan filsafat yang tertinggi menurut perenialisme, karena dengan ilmu pengetahuanlah seseorang dapat berpikir secara induktif yang bersifat analisa. Menurut perenialisme penguasaan pengetahuan mengenai prinsip-prinsip pertama adalah modal bagi seseorang untuk mengembangkan pikiran dan kecerdasan. Dengan demikian ia telah mampu mengembangkan suatu paham.
Anak didik yang diharapkan menurut perenialisme adalah mapu mengenal dan mengembangkan karya-karya yang menjadi landasan pengembangan disiplin mental. Dengan mengetahui tulisan yang berupa pikiran dari para ahli yang terkenal, yang sesuai dengan bidangnya maka anak didik akan mempunyai dua keuntungan yakni :
1.      Anak-anak akan mengetahui apa yang terjadi pada masa lampau yang telah dipikirkan oleh orang-orang besar.
2.      Mereka memikirkan peristiwa-peristiwa penting dan karya-karya tokoh tersebut untuk diri sendiri dan sebagai bahan pertimbangan (reverensi) zaman sekarang.
Tugas utama pendidikan adalah mempersiapkan anak didik kea rah kemasakan. Sekolah sebagai tempat utama dalam pendidikan yang mempersiapkan anak didik kea rah kemasakan melalui akalnya dengan memberikan pengetahuan. Keberhasialn anak dalam akalnya sangat tergantung kepada guru, dalam arti orang yang telah mendidik dan mengajarkan.
Robert Hutehkins mengatakan bahwa manusia itu pada hakikatnya sama, maka perlulah dikembangkan pendidikan yang sama bagi semua orang, ini disebut pendidikan umum (general education). Melalui kurikulum yang satu serta proses belajar yang mungkin perlu disesuaikan dengan sifat tiap individu, diharapkan tiap individu itu terbentuk atas dasar landasan kejiwaan yang sama.
3.      Pandangan Aksiologi Perennialisme
Perenialisme memandang masalah nilai berdasarkan azas-azas supernatural, yakni menerima universal yang abadi. Masalah nilai itu merupakan hal yang utama dalam perenialisme, karena ia berdasarkan pada azas-azas supernatural yaitu menerima universal yang abadi, khususnya tingkah laku manusia.
Dalam bidang pendidikan perennialisme sangat dipengaruhi oleh tokoh-tokohnya, sperti Plato, aristoteles dan Thomas Aquinas. Menurut Plato, manusia secara kodrat memiliki btiga potensi yaitu nafsu, kemauan dan pikiran. Dengan de4mikian jelaslah bahwa perenialisme itu menghendaki agar pendidikan disesuaikan dengan keadaan manusia yang mempunyai nafsu, kemauan dan pikiran sebagaimana yang dimiliki secara kodrat. Ide-ide Plato ini kemudian dikembangkan oleh aristoteles dengan lebih mendekatkan kepada dunia kenyataan. Bagi Aristoteles tujuan pendidikan adalah “kebahagiaan”. Untuk mencapai pendidikan itu, maka aspek jasmani, emosi dan intelek harus dikembangkan secara seimbang.
Dapatlah disimpulkan bahwa tujuan dari pada pendidikan yang hendak dicapai oleh para ahli tersebut di atas adalah untuk mewujudkan agar anak didik dapat hidup bahagia demi kebaikan hidupnya sendiri. Jadi dengan akalnya dikembangkan maka dapat mempertinggi kemampuan akal pikirannya. Dari prinsip-prinsip pendidikan perenialisme tersebut naka perkembangannya telah mempengaruhi system pendidikan modern, sperti pembagian kurikulum untuk sekolah dasar, menengah, perguruan tinggi dan pendidikan orang dewasa.